Menilik Kebangkitan Hak-Hak Perempuan yang Menuntut Keadilan dalam Film “North Country”
Dalam perkembangan media di Indonesia, terdapat beragam konten-konten yang merepresentasikan perbedaan persepsi, baik pro maupun kontra. Media filmpun mendapat penilaian positif maupun negatif dari masyarakat. Sebagian besar film-film di Indonesia banyak memperlihatkan realitas semu tentang gender dan menganggap bahwa laki-laki dan perempuan hanya sebatas perbedaan jenis kelamin. Berangkat dari hal itu, masyarakat mulai mengkotak-kotakkan aspek-aspek seperti sifat, pekerjaan, kesukaan, dan lain sebagainya kepada perempuan sehingga menciptakan konstruksi sosial yang memvisualisasikan terpojoknya kaum perempuan. Permasalahan gender sangat berkaitan dengan perempuan karena mayoritas dari mereka mendapatkan ketidakadilan atas konstruksi yang dibangun oleh masyarakat. Beberapa adegan memperlihatkan perempuan sebagai objek seksualitas yang diperdaya oleh lelaki, memiliki paras yang cantik supaya laki-laki tertarik, berperan sebagai ibu rumah tangga yang penurut dan keibuan. Karakteristik tersebut nyatanya muncul semata-mata untuk menaikkan jumlah penonton dengan menghidupkan konstruksi sosial yang ada.
Di era dengan kesadaran akan kesetaraan gender ini, film-film bernuansa keadilan dan kebangkitan kaum perempuan mulai bermunculan. Pentingnya kesetaraan gender bermakna bahwa perempuan memiliki hak dan peran yang setara di bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan politik dengan laki-laki. Kesadaran ini memicu kaum feminis dan aktivis yang memperjuangkan kesetaraan gender untuk bersikap proaktif dalam mengedukasi masyarakat tentang hal-hal dominan dari seorang perempuan lewat media, seperti film. Artinya, perempuan mampu mendobrak konstruksi sosial yang selama ini melekat dengan menunjukkan keberanian, kecerdasan, tekad dan pendirian yang kuat sehingga tidak lagi menjadi sebuah objek, tetapi sebuah subjek yang dapat berguna dan menginspirasi banyak orang.
Sebuah film Amerika yang diangkat berdasarkan kisah nyata kasus Jenson v. Eveleth pada tahun 2005 berjudul “North Country” menceritakan kegigihan seorang buruh perempuan yang bekerja di pertambangan dengan banyak laki-laki yang melakukan pelecehan seksual selama bekerja. Mereka menganggap aneh kaum perempuan yang bekerja sama kerasnya dengan laki-laki. Film yang disutradarai oleh Niki Caro ini memberikan gambaran seorang perempuan yang berusaha menuntut haknya dan teman-teman perempuannya sebagai kaum “marginal”. Alur cerita dibuat maju-mundur, dimana si pemeran utama, Josey Aimes menceritakan satu persatu penderitaannya di pengadilan sebagai perempuan yang selalu kalah karena budaya patriarki dan marginalisasi di lingkungannya.
Cerita ini bermula ketika Josey, seorang single parent yang memiliki dua orang anak, sudah tidak tahan lagi dengan KDRT yang dilakukan suaminya hingga ia memutuskan untuk kembali ke rumah orangtuanya. Namun kepulangannya tidak disambut baik. Ayah Josey mengira bahwa luka lebam yang ada di wajah Josey disebabkan karena ia berselingkuh dari suaminya. Selama ini orang tuanya merasa malu akan kehamilan anak pertama Josey yang tak pernah mau memberi tahu siapa ayahnya.
Suatu hari Josey ditawari oleh teman lamanya untuk bekerja di pertambangan dan iapun bersedia demi mendapakan uang dan membahagiakan kedua anaknya. Keputusan itu tidak disetujui oleh ayahnya karena baginya bekerja di pertambangan bukan pekerjaan yang cocok untuk perempuan. Namun Josey tetap bersikukuh untuk bekerja bersama rekan perempuannya di sana.
Selama bekerja, Josey dan rekan perempuannya kerap mendapatkan pelecehan baik fisik maupun verbal. Dan parahnya, tidak ada badan hukum yang melindungi mereka. Josey sendiri seringkali menjadi target seksual mantan kekasihnya ketika SMA yang ternyata bekerja di tempat yang sama, Bobby. Josey melaporkan pelecehan yang ia alami kepada atasannya, namun atasannya menutup mata dan menganggap bahwa perempuan yang bekerja di tempat laki-laki harus menyesuaikan bahkan kebal terhadap segala perlakuan layaknya laki-laki. Selain itu, Bobby juga menyebarkan fitnah bahwa Josey suka menggodanya dan hal itu membuat Sammy, anak pertamanya, membencinya.
Josey yang tidak tahan lagi dengan segala perlakuan yang ia terima akhirnya berhenti dari pekerjaan tersebut. Namun ia tidak membiarkan “penindasan kaum minoritas” itu terjadi terus menerus. Josey meminta seorang pengacara bernama Bill White untuk membantunya melancarkan tuntutan perusahaan di pengadilan dan ia pun setuju. Namun perjuangannya tidak mendapat dukungan dari rekan perempuannya karena mereka sangat membutuhkan pekerjaan. Akhirnya Josey memberanikan diri, seorang diri menuntut hak-hak pekerja dan menyelesaikan ketidakadilan yang selama ini terjadi.
Di persidangan, satu persatu fakta pun terungkap. Mulai dari pemerkosaan yang dilakukan oleh guru Josey pada saat ia berusia 16 tahun, Bobby yang awalnya sangat membenci Josey dan terus berbohong, akhirnya mengakui semuanya. Orang-orang yang hadir di persidangan pun mulai mendukung Josey untuk menuntut si pemilik perusahaan tambang. Akhirnya kasus tersebut dimenangkan oleh Josey dan teman-temannya dan hal ini membawa dampak yang sangat besar di Amerika, bahkan dunia. Regulasi perusahaan diubah dan hak-hak pekerja pekerja pun menjadi terlindungi secara hukum.
Film “North Country” mengambil poin penting bahwa dalam situasi ketidakadilan gender, khususnya yang dialami perempuan, ternyata mampu memberikan kesadaran dan kekuatan untuk mengubah pola pikir dan konstruksi sosial yang ada. Sisi lain seorang perempuan yang merasa tertindas, tidak terima dengan kondisi yang menguntungkan pihak laki-laki, dan dibudaki oleh budaya patriarki ternyata menjadi motivasi tersendiri dalam memperjuangkan hak-hak perempuan sehingga akhirnya bisa diperlakukan adil dan setara dengan laki-laki, baik dalam aspek sosial, budaya, maupun politik. Tidak dipungkiri seorang Josey yang berjuang tanpa banyak dukungan mampu mengubah kebijakan yang ada berkat kegigihannya dalam menuntut keadilan dan membela kebenaran.
Stereotip bahwa perempuan dikonseptualisasikan dalam paham ibuisme sudah seharusnya dihilangkan. Bagaimanapun juga, dalam film ini Josey merupakan orang tua tunggal yang perlu bekerja demi kehidupan yang layak dan kebahagiaan kedua anaknya. Sebagai seorang perempuan, ia memiliki peran ganda dimana ia mengurusi anak-anaknya dan melakukan pekerjaan rumah tangga, di sisi lain ia bekerja di pertambangan untuk mencari nafkah. Selain itu, tanggapan ayah Josey mengenai pemukulan suami terhadap istri sebagai sebuah kewajaran karena pada dasarnya perempuan suka menggoda dan berselingkuh sangat menggeneralisasi dan merugikan pihak perempuan.
Kekerasan dan subordinasi yang dilakukan oleh laki-laki seakan-akan menganggap bahwa perempuan merupakan makhluk yang tidak berdaya, memiliki kekuasaan yang rendah dan mudah terombang-ambing oleh situasi. Di film ini memperlihatkan kasus pemerkosaan Josey oleh gurunya ketika ia masih berusia 16 tahun, pelecehan seksual, pemfitnahan dan penyerangan yang dilakukan oleh Bobby; sikap pemilik pertambangan kepada pekerja perempuan, dan lain sebagainya. Betapa mirisnya kondisi para pekerja perempuan sebelum diterapkannya kebijakan perlindungan hak-hak pekerja perempuan.
Tidak dipungkiri juga bahwa saat ini masih ada kasus ketidakadilan gender yang begitu membatasi ruang gerak perempuan untuk berkarya, menggerakkan ekonomi keluarga dan pembangunan nasional. Oleh karena itu, pemerintah, masyarakat dan institusi perlu bekerja sama dalam mengedukasi, mencegah, menerapkan dan mendukung implementasi dari regulasi kesetaraan gender demi terciptanya keadilan antara laki-laki dan perempuan.
REFERENSI
1. Hestik, T. 2011, “REPRESENTASI KETIDAKADILAN GENDER FILM INDONESIA”, wordpress.com, 8 November, dilihat 12 Februari 2017, https://theresiahestik.wordpress.com/2011/11/08/representasi-ketidakadilan-gender-film-indonesia/
2. Karnadin, F. 2012, “North Country (2005)”, sinopsisfilm.com, 20 Desember, dilihat 12 Februari 2017, http://www.sinopsisfilm.com/2012/12/north-country.html
3. Sandi. 2016, “North Country”, filmbor.com, 14 Februari, dilihat 12 Februari 2017, https://filmbor.com/north-country/sinopsis/
Comments
Post a Comment