P O S S I B I L I T Y
"Ugh, panjang banget deh
antriannya. Udah hampir setengah jam nih berdiri di sini", dengusku sambil
menendang kaki ke udara.
Antrian itu tampak berkelok-kelok
menandakan banyak sekali orang yang mengantri. Sesekali aku duduk berlutut
kemudian memijat kakiku yang terasa pegal. Tumit ini rasanya seperti sudah
menyatu dengan sol sepatu, saking lamanya aku berdiri.
Hiruk pikuk manusia-manusia yang berbicara
di depan dan di belakangku semakin membuat rasa jenuhku menjadi-jadi. Ya, aku
sendirian. Tak ada yang mengajakku mengobrol. Tidak semudah itu aku
bersosialisasi dengan orang asing. Ah, aku benci sendirian di keramaian.
Untungnya pagi ini sinar matahari tidak terlalu terik. Mungkin aku akan nekat
keluar dari antrian karena rasa bosan, lelah, dan kesalku bisa dipastikan
berada di level tertinggi.
Namun kali ini aku benar-benar jenuh
melihat kerumunan yang berbaris tak beraturan di depanku. Tak sengaja aku
mengalihkan pandanganku ke arah pohon-pohon rimbun yang diterpa angin sejuk di
sekitar area lapangan. Aku mengamatinya dengan seksama. Burung-burung yang
terbang kesana kemari di sekitar pohon-pohon itu seakan mengekspresikan
kegembiraan dan kebersamaan yang harmonis. Well, it soothes me a lot.
Ketika sedang asyik mengamati, tiba-tiba
seseorang menabrakku dengan kencang dari belakang. Aku mengaduh kesakitan
karena lenganku terkena benda yang agak tajam. Aku segera berpaling untuk
menegurnya. Namun kali ini apa yang aku lihat membuat mataku ingin keluar dari
tempatnya. Sesosok pria bertopi hitam yang jaket almamaternya berbeda dengan
warna jaket almamater kampusku berdiri di hadapanku sambil membawa tumpukan
buku. Matanya membesar ketika ia melihat ke arahku.
"Aduh maaf ya saya buru-buru nih.
Kamu gapapa kan?" katanya dengan muka panik.
"Eh... M-Morgan! K-kamu lagi ngapain di
sini?" tanyaku terbata-bata.
Dia menatapku dari bawah ke atas. Mungkin
dia sedang mengingat-ingat. Ya, dia pasti sudah lupa denganku. Tapi tidak
denganku. Aku langsung mengenalnya. Morgan Woodward. Yap, dulu aku pernah
menyimpan perasaan padanya selama beberapa tahun. Namun setelah aku kehilangan
kabarnya 2 tahun belakangan ini, perasaan itu lambat laun menghilang. Dan
sekarang aku semacam kehilangan selera untuk menyukai siapapun.
Dia menjawab, "Oh, ada lomba sains
antar kampus, Rav. Dan saya jadi perwakilan dari kampus saya."
Ah, orang ini, masih saja seperti yang
dulu. Berbicara, lalu tersenyum. Seketika aku teringat memori-memori aneh itu.
"Ooooo, oke, good luck! Semoga lancar dan
lolos sampai final!" Aku mencoba menyemangati.
Aneh, seharusnya aku mendukung kampusku.
Tapi ya sudahlah, aku hanya ingin dia diberikan yang terbaik.
"Oke, makasih ya. Ummm, saya duluan ya, babak selanjutnya 15
menit lagi mulai." katanya sambil mengecek jam yang melingkar di lengan
kanannya.
"Okeee, daah" ujarku
sambil tersenyum ke arahnya.
Dia pun ikut tersenyum seraya melambaikan
satu tangannya, kemudian segera berlalu. Aku melihat derapan langkahnya yang
sangat percaya diri. Punggungnya, semakin jauh ia berjalan, semakin tidak
terlihat. Dari kejauhan, aku bisa melihatnya masuk ke gedung pertemuan.
"Oke kali ini canggung banget, biasa aja kali ah Rav!", gumamku sambil menyeringai.
Aku masih dalam keadaanku sebelumnya,
mengantri. Rasa bosanku seakan lenyap setelah pertemuan singkat tadi. Langkah
kakiku terhenti ketika aku menginjak sesuatu. Sebuah amplop surat berwarna
abu-abu. Aku segera mengambil dan membersihkannya sebelum antrian kembali
berjalan. Aku melihat keseluruhan amplop itu. Hanya ada dua buah kalimat di
bagian depan amplop,
From the boy who thinks she's incredible.
To the girl who thinks she's invisible.
Aku berpikir sejenak. Wow, mungkinkah ini
miliknya? Sepertinya tadi dia hanya membawa tumpukan buku. Kupikir sebaiknya kukembalikan setelah ini.
Aku terus memikirkan ini sampai akhirnya
tiba giliranku untuk diwawancarai sebagai anggota organisasi kerelawanan dan sosio-medis di kampusku.
Hanya perlu waktu 30 menit, akhirnya aku
keluar dari ruangan wawancara. Syukurlah aku bisa menjawab pertanyaan yang
dilontarkan dengan cukup lancar. Lega sekali rasanya.
Namun masih ada satu hal yang mengganjal.
Amplop surat itu! Segera aku duduk di bangku taman kampus dan mencoba mencerna
kembali kalimat di amplop itu. Ini
kesempatanku untuk melihat isinya, selama ini aku hanya menerka-nerka gadis beruntung itu. Aku terus bergumam, mencoba untuk menjernihkan pikiran.
“Ah sudahlah, ini bukan punyaku dan bukan
untukku juga. Tau diri aja"
"BUT bisa jadi ini buat aku... huaaaaa”
“Ah, ini sih mustahiil!” teriakku sambil
memijat kedua pelipisku.
Aku melihat ke sekeliling taman, mengecek
apakah ada yang mendengar teriakan anehku itu. Namun sepertinya tidak ada.
Sudah kuduga, aku memang tidak
terlihat. Ms. Invisible, julukan yang kuberikan kepada diriku selama ini.
Tak lama kemudian, kudengar suara dedaunan
kering yang diinjak. Sang pemilik suara langkah kaki itu mendekat ke arahku
lalu berkata,
"Nothing is impossible, right?"
SUARA ITU.
AH SUARA ITU.
AKU MERINDING.
Aku menengok ke belakang lalu berdiri.
RIGHT, THAT'S HIM.
Kali ini dia membawa dua botol minuman
penyegar di tangannya.
"Eh, Morgan, yang tadi... kamu denger
ya?" tanyaku gemetar.
Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Aku berkeringat sangat banyak. Benar-benar
malu rasanya. Entahlah, orang ini lagi-lagi membuatku jantungan dan berhasil
membuat ekspresi wajahku menjadi tidak karuan.
Pelan-pelan aku menyingkirkan kegelisahanku lalu menyimak apa yang ia bicarakan.
"Ya saya denger lah. Tadi pas mau
nyari bangku yang kosong di sini, saya denger kamu teriak begitu. Kenapa? Apa
yang mustahil?" tanyanya sembari mengambil posisi duduk berjauhan denganku.
"Gapapa, hahaha udah lupain aja.
Lagipula nggak terlalu penting juga." jawabku sambil mengedarkan pandangan
ke arah pohon-pohon rimbun di sekitar taman.
Ia hanya mengangguk. Kemudian hening
sesaat.
"Oh ya, nih buat kamu, Rav. Pasti
capek ngantri ya tadi?" dia menyodorkan sebotol minuman penyegar itu
kepadaku.
"Ah iya, makasih banyak. Pas
banget lagi nggak bawa minum. Pasti pas lomba tadi juga capek mikir ya? Heeeee"
"Ya, lumayan", lalu segera
meneguk minumannya.
Kemudian aku mengambil sesuatu. Apa
lagi jika bukan amplop itu.
"Ngomong-ngomong, ini amplopmu bukan?"
"Oh.. iya, itu.. punya saya",
ia berbicara terputus-putus sambil memasang muka bingung dan heran
sekaligus.
"Kenapa? Bukan punyamu, Mor?"
"Nggak kok, beneran ini punya saya.”
Dia melanjutkan, “Sebenernya pengen saya
kasih ke seseorang, mumpung lagi di kampus ini. Eh pas udah saya kasih, malah
dibalikin. Liat, segelnya aja belum dibuka bla... bla... bla...", katanya
panjang lebar sambil menunjukkan segel dari amplop itu.
Aku tidak menyimak betul apa yang ia
bicarakan. Aku hanya memerhatikan caranya berbicara. Sangat berbeda jika
dibandingkan ketika SMA dulu. Ya, bisa dibilang ia dulu lumayan...
jutek.
"Yaaah kasian deh. Mungkin dia udah
ditag sama yang lain." tanggapku sambil tertawa kecil.
"Ah, gak mungkin. Dia kan jomblo dari
dulu..." , tanggapnya
ragu-ragu.
"Mungkin dia emang nggak pacaran,
tapi kalo ternyata udah dilamar duluan sama yang lebih siap gimana?"
"Ya masalahnya ini saya mau nyampein
sesuatu ke dia soal itu..." ,
jawabnya, seketika ia
menundukkan kepala dan melipat tangannya.
"Eh, maksudnya mau ngelamar? Waaaaw,
ngeriii!" ujarku
berlebihan. Setelah itu aku sadar, memalukan sekali kau ini, Raven!
"Nggak gitu. Saya cuma mau ngeyakinin
dia aja soal niat saya ini..."
"Ooooo, yaudah temuin dia gih secepatnya hahaha"
Aku berdecak kagum. Dia benar-benar sudah
dewasa dan mapan. Aku hanya bisa berdo'a yang terbaik untuknya saat ini. Karena bahagiaku, bahagianya.
Tiba-tiba ada seseorang yang meneriakinya.
Perempuan yang warna berjaket almamater biru tua itu berlari kecil menuju
bangku yang kami duduki. Lalu kami berdiri bersamaan.
"Tuan Woodward! Ternyata kamu di
sini! Cewek-cewek lain pada nyariin kamu dari tadi. Untung aku nemuin kamu duluan hehehe.
Sepuluh menit lagi kita balik ya", katanya sambil terengah-engah, lalu
tersenyum lebar ketika melihat Morgan yang hanya terkekeh.
Maybe she’s the girl.
"By the way, ini siapa
ya?" lanjut perempuan itu sambil menunjukku.
"Oh, nama saya Rav-..."
"...she is THE GIRL." dengan memberi
penekanan pada kata "the girl". Aku bisa melihat Morgan begitu bersemangat ketika mengucapkan kata-kata itu.
Perempuan itu hanya ber'oh' ria.
Tatapannya yang berbinar-binar ketika menemukan Morgan yang ternyata berada di
taman seketika berubah menjadi tatapan sinis saat ia melihatku.
Sedangkan aku hanya melongo sesaat setelah mendengar percakapan mereka.
She’s beautiful. But why does she looks at me
like... meh?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Angin berhembus agak kencang; membuat
daun-daun kering berguguran dan berserakan di tanah. Pagi ini aku melalui
beberapa peristiwa yang tak terduga. Aku bertemu dengan sesosok pria yang
pernah aku pikir tak akan bertemu lagi dengannya.
Sekarang, ia bersiap-siap untuk pulang
lalu berdiri di hadapanku.
"Oke, saya duluan ya, Rav" katanya sambil membetulkan topinya yang agak miring.
"Tunggu, suratnya belu-..."
"Itu buat kamu", katanya sambil memasang muka melas.
Kemudian hening.
Dia hanya memberikan tatapan dan anggukan
untuk meyakinkan bahwa apa yang dia katakan itu benar.
Aku menatapnya juga seraya menggelengkan
kepala, seolah mengatakan "Oh, pasti aku bermimpi" atau “Ini
benar-benar mustahil”.
"Nothing is impossible, right?"
tiba-tiba ia berbicara. Sebuah senyuman terukir di bibirnya. Manis,
lebih dari gula atau manisan apapun yang diproduksi di dunia ini.
"Oh, um... ya -- right”, jawabku ragu, kemudian mengulumkan senyumku
kepadanya.
Setelah itu ia berlari menuju teman
perempuannya yang sedari tadi sudah berjalan duluan. Ya, ternyata mereka hanya sebatas teman. Dari jauh, ia
melambaikan tangannya kepadaku. Akupun membalas ungkapan perpisahannya.
Mereka terus berjalan, sampai tak terlihat
lagi oleh pandangan mataku.
Aku kembali duduk di bangku taman, meminum
minuman yang tadi ia berikan, kemudian membuka segel amplop itu. Aku membaca
surat yang dia tulis untukku.
You know, they said, one day all my feelings for you would be gone,
but here I am years later, with the same feeling as a few years ago.You won't believe this but, please, wake up! It’s not the impossible thing you’ve ever dreamed about! I hope you only have two options; it’s either you leave or you stay.
Well, catching feelings (again) with the same guy? Seems not a good idea, is it?
Malamnya, aku menerima pesan darinya.
"Rav, sebenernya tadi saya udah tau kalo kamu ada di antrian itu, tapi saya malah pura-pura nabrak kamu. Terus saya juga udah tau kalo kamu lagi di taman, saya sengaja beli 2 minuman tadi. I'm deeply sorry for everything. I didn't mean to."
To be honest, I'm officially being a fan of your lies, really. I love the way you lie.
Aku hanya tersenyum, kemudian membalas,
"S T A Y ”.
p.s. ladies and gentleman, please welcome, Raven Oliver Finlay and Morgan Dominic Woodward :")
p.s. ladies and gentleman, please welcome, Raven Oliver Finlay and Morgan Dominic Woodward :")
Comments
Post a Comment